Jumat, 03 Februari 2012

etika bisnis


2.1  Pengertian Etika
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu ethos, sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Menurut beberapa ahli, pengertian etika adalah sebagai berikut:
2  Drs. O.P. Simorangkir : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
2  Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
2  Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Pengertian dan definisi etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya antara lain:
o   Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
o   Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)
o   Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
o   Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)
Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas, etika dapat diklasifikasikan menjadi tiga  jenis definisi, yaitu sebagai berikut:
·         Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
·         Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
·         Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

Etika terbagi menjadi  2 macam (Keraf, 1991: 23), yaitu sebagai berikut:
    Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang
2
dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu  masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis. 
    Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya
dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan
tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-
norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan meng-
hindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati
dan berlaku di masyarakat.
2.2   Pengertian Etika Wirausaha
Wirausaha merupakan kelompok orang-orang secara teratur, berencana melakukan tugasnya sesuai dengan rasa tanggung jawab dalam mengembangkan bidang usaha untuk kepentingan pribadinya dan lingkungannya. Setiap wirausaha harus dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan, tata tertib, pedoman-pedoman dan etika kewirausahaan. Aturan itu disebut etika wirausaha.
Jadi, etika wirausaha adalah prinsip-prinsip atau pandangan-pandangan, tata aturan, disiplin, adat istiadat norma-norma sebagai pedoman melaksanakan kegiatan di bidang usaha yang mengikat dirinya untuk membela pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya yang sudah ditentukan oleh perkumpulan wirausaha untuk mencapai suatu tujuan usaha tersebut. Dengan kata lain, etika wirausaha adalah merupakan adat sopan-santun, adat kebiasaan dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan kewirausahaan.
Di dalam kehidupan bidang usaha atau dunia bisnis, seorang wirausaha tidak berdiri sendiri, tetapi sangat perlu bantuan para wirausaha lainnya, bantuan dari pihak pemerintah atau badan-badan usaha terkait lainnya. Oleh karena itu, seorang wirausaha harus menunjukan tingkah laku yang baik, sopan santun, tolong-menolong, tenggang rasa, hormat-menghormati satu sama lainnya.
Dalam kegiatan usahanya seorang wirausaha harus mempunyai etika wirausaha yang secara umum antara lain :
     rasa kesusilaan atau budi pekerti yang baik.
     rasa sopan santun di dalam segi kehidupan berwirausaha.
     tatakrama di dalam segala tindakan dan perbuatan waktu berwirausaha.
     mempunyai tanggung jawab pada usahanya.
     bersikap jujur, benar sesuai dengan profesi usahanya.
     seorang pengusaha harus mengikuti norma yang berlaku dalam suatu negara atau masyarakat.
     berpenampilan sopan dalam suatu situasi atau acara tertentu.
     cara berbicara yang santun dan tiddk menyinggung orang lain.
     perilaku yang menyenangkan orang lain.
     taat hukum.
3
Dalam kegiatan usaha seorang wirausaha juga harus memiliki sikap dan perilaku yang dapat diberikan kepada pelanggan adalah sebagai berikut:
*        jujur dalam bertindak & bersikap,
*        rajin,tepat waktu, disiplin dan tidak malas,
*        murah senyum,ramah tama,pandai bergaul,
*        fleksibel dan suka menolong pelanggan,
*        tanggung jawab dan rasa memiliki perusahaan,
*        memiliki komitmen dan menghormati pelanggan.

          Adapun norma-norma etika wirausaha yang harus dijalankan atau dilakukan oleh para wirausaha adalah :
    mendukung dan membela ideologi negara yaitu Pancasila,UUD 1945 dan kebijaksanaan pemerintah,
    lebih meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
    menjaga nama baik para wirausaha,
    melakukan dan memperlihatkan perilaku dan sikap yang sesuai dengan jabatan wirausaha,
    melaksanakan tugas sesuai dengan jabatan kewirusahaan dengan penuh dedikasi yang tinggi.

Tujuan etika wirausaha, yaitu:
o   agar etika wirausaha sejalan dengan tujuan perusahaan

Manfaat etika wirausaha bagi perusahaan antara lain:
2  menjalin persahabatan dengan pelanggan
2  menyenangkan pelanggan
2  membujuk pelanggan
2  mempertahankan pelanggan
2  membina dan menjaga hubungan dengan pelanggan

   Dalam menciptakan etika bisnis dan etika wirausaha, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain ialah:
a.       Pengendalian diri. Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun.
b.       Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility). Pelaku bisnis dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat.
c.        Mempertahankan jati diri agar tidak mudah terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi.
d.       Menciptakan persaingan yang sehat. Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah sehingga dengan mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya.
e.       Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”. Dunia bisnis harus memikirkan keadaan dimasa mendatang.
f.         Menghindari sifat katabelece, kongkalikong, koneksi, kolusi dan komisi.
4
g.       Mampu menyatakan yang benar itu benar.
h.       Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah.
i.         Konsekuen dan konsisten dengan aturan yang telah disepakati bersama.
j.         Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.
k.        Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif berupa peraturan perundang-undangan.

2.3  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Etika
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pelanggaran etika, antara lain yaitu :
    kebutuhan individu
    tidak ada pedoman
    perilaku dan kebiasaan buruk individu yang terakumulasi dan tidak dikoreksi
    lingkungan yang tidak etis
    pengaruh perilaku dari komunitas

Sanksi yang dapat dikenakan terhadap pelanggaran etika, diantaranya yaitu:
     sanksi social, yaitu skala sanksi yang relatif kecil karena pelanggaran masih dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’.
     sanksi hukum, yaitu skala sanksi yang relatif besar karena pelanggaran telah dianggap merugikan hak pihak lain.

2.4  Konsumerisme
Pemaknaan istilah konsumtivisme dan konsumerisme jelas berbeda tetapi kerap kali konsumtivisme di-sama-arti-kan dengan konsumerisme. Namun, kedua istilah tersebut adalah dua hal yang berbeda maknanya. Dari kedua arti kata-kata tersebut jelas bahwa konsumerisme harus digalakkan dan konsumtivisme yang harus dijauhi. Kata konsumerisme adalah kata yang diadopsi dari bahasa asing yaitu consumerism. Defenisi otentik dari konsumerisme antara lain :
Menurut Encyclopedia Britanica, Konsumerisme adalah sebagai gerakan atau kebijaksanaan yang diarahkan untuk menata metode dan standar kerja produsen, penjual dan pengiklan untuk kepentingan pihak pembeli.
Dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia kontemporer (Peter Salim, 1996), arti konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya.
Konsumtivisme merupakan paham untuk hidup secara konsumtif, sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang melainkan mempertimbangkan prestice yang melekat pada barang tersebut.
5
Oleh karena itu, arti kata konsumtif (consumtive) adalah boros atau perilaku yang boros,yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Dalam artian luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah-mewah.
Sedangkan konsumerisme merupakan gerakan konsumen (consumer movement) yang mempertanyakan kembali dampak-dampak aktivitas pasar bagi konsumen. Dalam pengertian lebih luas, istilah konsumerisme diartikan sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha dan negara yang tidak sekadar hanya melingkupi isu kehidupan sehari-hari mengenai produk harga naik atau kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi konsumer.

2.5  Budaya Perusahaan
          Budaya perusahaan adalah aturan yang ada didalam perusahaan yang akan menjadi pegangan dari sumber daya manusianya dalam menjalankan kewajiban dan nilai-nilai untuk berperilaku di dalam organisasi tersebut. Budaya perusahaan juga bisa definisikan sebagai nilai-nilai pokok yang menjadi inti dari falsafah bekerja dalam organisasi, yang membimbing seluruh karyawan dalam bekerja untuk mencapai tujuan suatu perusahaan tersebut.
          Edgar Shein menggambarkan tiga tingkat budaya perusahaan, yaitu:
¯  tingkatan permukaan yaitu dimana budaya dilakukan dan diperkuat melalui penampilan dan perilaku yang terlihat, seperti layout fisik kantor, aturan berpakaian, struktur organisasi, kebijakan perusahaan, prosedur dan program, serta sikap.
¯  tingkat menengah yaitu dimana budaya diwujudkan melalui keyakinan dan nilai-nilai.
¯  tingkat terdalam yaitu dimana budaya dimanifestasikan melalui asumsi dasar  lewat proses pembelajaran, respon otomatis dan pendapat yang diberikan.

Perkembangan Budaya Perusahaan
*        budaya perusahaan adalah hal-hal yang dikerjakan dalam satu perusahaan.
*        budaya perusahaan adalah asumsi-asumsi dasar.
*        rekayasa budaya perusahaan sebagai alat untuk meraih kemajuan, budaya perusahaan sebagai andalan daya saing.
*        budaya perusahaan bagian dari strategi perusahaan dalam meraih kemajuan.
Nilai Budaya Perusahaan

         Nilai budaya perusahaan merupakan kumpulan dari nilai-nilai positif perusahaan (corporate value) yang secara bersama-sama diyakini kebenaran dan kebaikannya oleh seluruh insan dalam perusahaan.

Asas Budaya Perusahaan

2  Professionalism (Profesionalisme).
Senantiasa memberikan hasil terbaik dengan meningkatkan kompetensi dibidangnya dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
6
2  Continuous Improvement (Penyempurnaan terus menerus).
Berkomitment untuk melakukan penyempurnaan terus menerus.

2  Integrity (Integritas).
Jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain. Konsisten antara pikiran, perkataan dan perbuatan berlandaskan  standar etika yang luhur.

2  Safety (Keselamatan Kerja).
Senantiasa mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan  sekitarnya.

2  Excellent Service (Pelayanan prima).

Tujuan Budaya Perusahaan adalah:

     melestarikan budaya perusahaan yang telah lama ada yang telah dijalankan dan terbukti berdampak positif terhadap perkembangan perusahaan.
     menetapkan secara definitif dan formal budaya perusahaan yang secara rasional dan dapat diterima (acceptable) dan sudah dijalankan.
     sebagai panduan seluruh wirausaha yang harus diterapkan dalam melaksanakan tugas serta menghadapi tantangan dan kompetisi bisnis di masa yang akan datang.
     meningkatkan daya saing yang sehat
     diharapkan memberikan rasa bangga bagi pekerja karena memiliki budaya perusahaan yang nyata, jelas dan setaraf dengan perusahaan maju lainnya dan menjadi pembentuk perilaku positif pekerja di dalam perusahaan.
     pesan moral yang ada di dalamnya digunakan dalam mengantisipasi tantangan dan peluang para pekerja.

Manfaat Budaya Perusahaan terhadap perusahaan

    mendorong tercapainya tujuan perusahaan secara efektif dan efisien.
    memberikan suasana kerja yang penuh gairah dan kekeluargaan.
    mampu mengatasi segala perubahan baik internal maupun eksternal.
    meningkatkan kepercayaan para pelanggan / investor.
    memperlancar implementasi penyempurnaan manajemen.

Manfaat Budaya Perusahaan terhadap pekerja:

2 memberikan imbalan dan sanksi administratif yang lebih obyektif.
2 lebih terjaminnya kebutuhan dalam mengemukakan pendapat dan saran kepada atasan.
2 meningkatkan produktifitas dan prestasi pekerja
2 menimbulkan rasa kebanggaan dan rasa memiliki terhadap perusahaan
2 membentuk jiwa kebersamaan (esprit de corps) sehingga akan menumbuhkan semangat sinergitas yang tinggi.

7
Penerapan Budaya Perusahaan
         Penerapan pedoman budaya perusahaan ini harus dilakukan melalui program internalisasi kepada seluruh karyawan. Internalisasi tersebut dilaksanakan dengan cara sosialisasi, pelatihan dan media publikasi lainnya dengan harapan hasil internalisasi tersebut dapat mendorong terbentuknya citra (image) perusahaan yang baik di mata stakeholders.

Jumat, 27 Januari 2012

pembangunan dalam refleksi budaya


1.1    Bruner dan Teorinya

      Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psokologi belajar kognitif . Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses,pemikir dan pencipta informasi.
     Bruner tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis, melainkan ialah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasi informasi secara aktif, dan inilah menurut Bruner inti dari belajar.

Ciri khas teori belajar menurut Bruner:
¨    Empat tema tentang pendidikan
Dalam bukunya The Process of Education (Bruner,1960), Bruner mengemukakan empat (4) tema pendidikan yaitu:
Tema pertama, mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu sebab dengan struktur pengetahuan dapat menolong para siswa untuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain pada informasi yang telah mereka miliki.
Tema kedua, tentang kesiapan (readiness) untuk belajar. Kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang dapat membantu seseorang untuk mencapai keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi.
Tema ketiga, menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Intuisi dimaksudkan bahwa teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi- formulasi tentative tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi itu merupakan kesimpulan-kesimpulan yang sahih atau tidak.
Tema keempat, tentang motivasi atau keinginan untuk belajar, dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang  motivasi itu.

¨    Model dan Kategori
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi (Rosser,1984). Asumsi pertama, bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif akan menyebabkan perubahan yang tidak hanya terjadi dilingkungan, tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Asumsi kedua, bahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world).
Menurut Bruner, dalam belajar, hal-hal yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberikan arti pada hal-hal itu. Dalam proses hidup dan berinteraksi dengan lingkungan, orang mengembangkan model dalam (inner mode) atau sistem koding untuk menyajikan alam sebagaimana yang diketahuinya. Menurut Bruner, dalam sistem ini terdapat banyak referensi silang  yang saling menghubungkan hal-hal itu untuk membentuk satu seri hubungan-hubungan yang sangat kompleks.
Pendekatan Bruner terhadap belajar dapat diuraikan sebagai suatu pendekatan kategorisasi. Bruner beranggapan bahwa semua interaksi-interaksi kita dengan alam melibatkan kategori-kategori yang dibutuhkan bagi pemfungsian manusia. Karena kategorisasi menyederhanakan kekompleksan dalam lingkungan kita. Menurut Bruner, kategorisasi dapat membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi  dari pada informasi yang diberikan. Kesimpulannya, Bruner beranggapan bahwa  belajar merupakan pengembangan kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean.

¨    Belajar sebagai Proses Kognitif
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga (3) proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses ialah memperoleh informasi baru, transformasi informasi, serta menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).
Informasi baru merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang, atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki oleh seseorang. Dalam transformasi pengetahuan, seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi, atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Selanjutnya kita menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.
Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua (2) prinsip yaitu pertama, pengetahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya, kedua, model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan.
Persepsi seseorang tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Dalam proses ini orang itu menyusun suatu hipotesis dengan menghubungkan data inderanya pada model yang telah disusunnya tentang alam, lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat-sifat tambahan dari peristiwa itu. Jadi, seorang pengamat itu tidak dipandang sebagai organisme reaktif yang pasif, tetapi sebagai seseorang yang memilih informasi secara aktif, dan membentuk hipotesis perseptual.
Asumsi umum tentang teori belajar kognitif yaitu bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya, belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning), pemaknaan berdasarkan hubungan, dan proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi.
Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang menurut bruner adalah sebagai berikut :
·      Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus.
·      Pertumbuhan intelektual tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan.
·      Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya

Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tiga (3) sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuan-kemampuannya secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu disebut tiga cara penyajian diantaranya ialah cara enaktif, cara ikonik, dan cara simbolik. Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulative. Pada tahap ini anak didik melakukan aktivitas-aktivitasnya dalam usaha memahami lingkungan. Peserta didik melakukan observasi dengan cara mengalami secara langsung. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainnya.
 Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Pada tahap ini anak didik melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan. Penyajian ini  dikendalikan oleh prinsip-prinsip dan transformasi-transformasi secara ekonomis dalam konsep perseptual.
Cara penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik dibuktikan  oleh kemampuan seseorang yang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan dari pada objek-objek, memberikan struktur hierarkis pada konsep-konsep, dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternative dalam suatu cara kombinatorial. Pada tahap ini peserta didik mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika. Peserta didik membuat abstraksi berupa teori-teori, penafsiran, analisis dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.

¨    Belajar penemuan
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran/belajar kognitif yang dikembangkan oleh Jerome Brunner (1996). Menurut Bruner, belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar benar bermakna.
Menurut Brunner, belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.  Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukan sendiri, bukan hanya menerima penjelasan dari guru saja.
Brunner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antar kosep. Menurut Brunner,  belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep dan prinsip, serta dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen yang membuat mereka dapat menemukan prinsip itu sendiri.

Penggunaan konsep discovery learning (belajar penemuan) ini memiliki keunggulan sebagai berikut:
·         Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna atau belum.
·         Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan lama dan mudah diingat.
·         Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan adalah agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterimanya.
·         Transfer dapat ditingkatkan setelah generalisasi ditemukan sendiri oleh siswa.
·         Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
·         Belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.
·         Belajar penemuan dapat mendorong keterlibatan aktif, meningkatkan  tanggung jawab, dan kemandirian, serta dapat meningkatkan pengembangan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah.
·         Penemuan melatih keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
·         Belajar penemuan membangkitkan rasa keingintahuan  siswa.
·         Konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakatnya, membentuk sifat kesiapan serta kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik.
·         Memberikan kepercayaan tersendiri bagi peserta didik karena mampu menemukan, mengolah, memilah dan mengembangkan pengetahuan sendiri.

Adapun kelemahan konsep belajar penemuan menurut Jerome Bruner, yaitu:
   Konsep belajar ini menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan kematangan mental. Peserta didik harus berani dan berkeinginan mengetahui keadaan disekitarnya. Jika tidak memiliki keberanian dan keinginan tentu proses belajar akan gagal.
   Konsep ini kurang berhasil apabila di laksanakan didalam kelas yang besar.
   Konsep ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi peserta didik.
   Konsep ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk bepikir secara kreatif.

      Dari beberapa penjelasan tentang kelebihan dan kelemahan konsep penemuan menurut Jerome Bruner, tentu kita harus mampu mempergunakan konsep belajar ini sesuai dengan keadaan dan tempatnya, sehingga dapat memaksimalkan penggunaaannya agar tidak terjadinya kegalalan pembelajaran karena salah dalam penggunaannya.

1.2    Teori Instruksi Bruner

Menurut bruner, suatu teori instruksi (Bruner,1966) hendaknya meliputi :
ø   Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar.
Menurut bruner, belajar dan pemecahan masalah tergantung pada penyelidikan alternative-alternative. Penyelidikan alternative-alternative membutuhkan aktivasi, pemeliharaan dan pengarahan.
ø   Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.
Struktur suatu domain pengetahuan menpunyai tiga cirri, yaitu cara penyajian, ekonomi dalam penyajian, dan kuasa dari penyajian. Setiap ciri itu mempengaruhi kemampuan siswa untuk menguasainya.
ø   Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal.
Dalam mengajar, siswa dibimbing melalui urutan pernyataan-pernyataan dari suatu masalah atau sekumpulan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima, mengubah, dan mentransfer apa yang telah dipelajarinya. Jadi, urutan materi pelajaran dalam suatu domain pengetahuan mempengaruhi kesulitan yang dihadapi siswa dalam mencapai penguasaan. 
ø   Bentuk dan pemberian reinforsemen.
Bruner mengemukakan, bahwa bentuk hadiah atau pujian dan hukuman harus dipikirkan. Demikian pula bila pujian atau hukuman itu diberikan selama proses belajar mengajar. Umpan balik berupa perbaikan-perbaikan dibuat sedemikian rupa sehingga siswa menjadi tidak bergantung kepada guru atau tutor bahkan dimungkinkan siswa untuk menggantikan fungsi tutor tersebut.                                                                  
        Bruner percaya bahwa teori instruksi harus memiliki empat (4) keistimewaan yang menentukan proses instruksi alami, yaitu:
§  Secara khusus memberikan pengalaman yang mempengaruhi atau memotivasi berbagai tipe siswa untuk belajar, bahwa belajar terjadi dari subjek umum ke subjek yang lebih khusus.
§  Pengetahuan  umum dan disiplin tertentu harus disusun dan distruktur sehingga menjadi siap dipelajari siswa.
§  Menentukan cara yang paling efektif dan efisien dalam menyajikan materi kepada siswa untuk memfasilitasi belajar.
§  Harus menyeleksi peruntunan yang tepat dari penghargaan dan hukuman dalam mengajar dan belajar.

1.3    Menerapkan Mengajar Penemuan

a)      Metode dan Tujuan
Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya seiring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sebenarnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa, dan merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan. Dalam belajar penemuan siswa mendapat kebebasan sampai batas tertentu untuk menyelidiki, secara perorangan atau berkelompok. Dalam belajar penemuan ini guru tidak begitu mengendalikan proses belajar mengajar.

b)      Peranan Guru
Dalam belajar penemuan, peranan guru dapat dirangkum sebagai berikut:
¨      merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.
¨      menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.
¨      guru juga harus memperhatikan tiga cara penyajian yang telah dibahas terdahulu yang sesuai dengan tingkat kognitif siswa.
¨      bila siswa memecahkan masalah dilaboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor.
¨      menilai hasil belajar melalui bentuk tes yang dapat berupa tes objektif atau tes esai.

Tahapan-tahapan penerapan belajar penemuan, antara lain:
·         Stimulus (pemberian perangsang), kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk  membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
·         Problem statement (mengidentifikasi masalah), memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis tersebut.
·         Data collection (pengumpulan data), memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.
·         Data processing (pengolahan data), memberikan bimbingan terhadap data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi atau lain-lain.
·         Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
·         Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.






DAFTAR PUSTAKA

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga